Sejarah dan Asal-usul Nama Pantai Toroan

kebiasaan verbal yg pula berkembang umbul di area warga Madura, menghasilkan tidak sedikit area yg ada di pulau ini mempunyai berita dan peristiwa sendiri-sendiri dan bermula sanalah bermunculan mitos-mitos kepada menjaga dan menata kisah-kisah yg di sampaikan. demikian tambah bersama Pantai Toroan, mempunyai latar buntut info berkaitan asal-usul awal nama Toroan yg jadi identitas awal air bergeser yg ada di Desa Ketapang Daya ini.

Konon dulu ketika ada sepasang laki perempuan yg bernama Sayyid Abdurrahman yg ternama dgn suara Birenggono dan istrinya Sitti Fatimah. Mereka masih di desa Langgher Dejeh yg beruang di perbatasan Desa Ketapang Timur dan Ketapang Daya. Awalnya hunian injak-injak suami-istri tersimpul rukun. Namun seiring perjalanan kala berlangsung pertengkaran dan pertengkaran.

Keduanya silih menuduh tak setia. Sang laki menuduh istrinya berselingkuh dgn laki laki lain, pun sang perempuan mencurigai suaminya miliki wanita tabungan. akhir awal bentrokan tersimpul ialah perikatan bagi tukar bersumpah dihadapan orang banyak.

Birenggono bersumpah bahwa bila beliau kelak wafat, minta kepada dikubur di atas akhir bukit kapur. kalau beliau berbeda maka kuburannya tak dapat mampu digali, dan seandainya ia tak bertentangan maka kuburannya termasuk bakal enteng digali lebihlebih dgn cuma menggunakan tangkai tanaman antara sekalipun.

caci yg diucapkan Sitti Fatimah nyaris sama, dirinya memengaruhi dimakamkan di juga hilir anak sungai. bila beliau berbeda maka anak sungai tidakl bakal ingin merebut jasadnya, tapi apabila ia tak berlainan, maka jasadnya dapat hanyut tertarik arus sungai.

tak lama sesudah diucapkannya cerca, sepasang laki hawa tertera wafat dalam diwaktu nyaris berbetulan. tepat dgn amanatnya, sang laki dimakamkan di atas bukit kapur. Pertistiwa pelik berlangsung sebab bukit kapur yg mencocok lantaran tanahnya membaur dgn bebatuan, mampu bersama enteng digali. aspek tertulis mengesahkan bahwa sang laki tak bersalah.

sejarah asing serta berlangsung kepada dikala pemakaman Sitti Fatimah. demikian tuntas dimakamkan, anak sungai menguraikan jadi dua ajaran seolah menampik jasad Sitti Fatimah, maka kuburannya beruang di tengah-tengah anak sungai. elemen terselip mengabsahkan bahwa wanita itulah yg berparak dan sudah memberontak terhadap suaminya.

Baca juga: kampung gajah bandung

Air anak sungai semula berputar sampai mencetak air melingsir dan turun ke bawah berbaur dgn air laut. Air berdansa tercantum oleh penduduk kemudian dikasih nama “Air melandai Toroan” yg diambil semenjak kata Madura toron yg artinya “turun”. tambah makam Sitti Fatimah yg sampai waktu ini semula mengungkai anak sungai dikasih nama “Asta Buju Penyepen” demikian masih dgn makam Birenggono, sampai sekarang serta mampu dipandang di atas bukit kapur dan dikenal bersama suara “Asta Kam Tenggi” atau makam yg beruang di lokasi tinggi. berkenaan sah atau tidaknya informasi tercantum, hingga saat ini berulang jadi misteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *